Pendongeng garang yang dengan mudah membuatku diam di setiap hari menakutkan di mana aku bersamanya. Perempuan pertama yang aku kenal dan mengenalku betul. Peramu resep yang bekerja lebih sering dari pekerja lainnya. Tangannya yang kugenggam lebih erat dan mungkin terlalu lama untuk orang yang—saat itu—baru kukenal.

Ia kadang menangis, terkadang hari memang kelewat sadis. Kadang aku bingung, ia bisa menangis lalu tertawa di detik berikutnya. Aneh. Perempuan kedua—setelah ibuku, tentu saja—yang kujadikan sandaran kepala saat aku menengadah pasrah.

Ia adalah segala alasanku marah dan tertawa setiap hari. Kadang aku malu, luasnya pekarangan belakang pasti sungkan jika dibandingkan dengan kesabaran yang ia punya.

Usia kami bertambah seiring hari-hari yang kami lewati. Ia berbisik pelan, “Aku pengen foto,” katanya. Aku keheranan. Bahkan foto di setiap media sosialku bukan menggunakan fotoku sendiri. Foto sana-sini, berpose ini-itu, saling protes karena referensi kami tentang foto bagus terlalu berseberangan. Iya, setidaknya ia mengajarkan apa itu percaya diri di depan kamera—sekalipun demi kesenangannya sendiri.

Kucium pipinya—hanya sekadar tidak ingin memperpanjang perdebatan.
“Udah gimana kamu aja.”
Ia diam sejenak.
“Sekali lagi deh ya?”
“Iya.”

Malam itu seperti malam lainnya, potongan kecil dari memori harian yang akan aku putar di hari berikutnya; untuk diingat. Sebelum semua sedingin malam ini.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.