Awalnya tulisan ini ingin kuberi judul sesuai namamu, tapi aku merasa aneh saat menjelaskan hal yang masih samar. Di kepalaku, berbagai skenario berputar bergantian, tak ada dari mereka yang bisa mengantre tertib. Yah, namanya juga perasaan. Seperti sebelumnya, kamu tidak wajib tahu, atau kalaupun sudah terlanjur, kamu bisa melupakannya nanti sebelum tidur.

Aku bingung kehabisan opsi, atau memang sedang tidak ada ide yang melintas tentang apa yang harus kulakukan. Aku merasa akal sehat sudah tidak terlalu berperan penting. Atau mungkin pertanyaan-pertanyaanku memang tidak bisa dijawab secara logis. Aku hanya ingin sekadar bertemu.

Aku sengaja menolak berpikir, menolak disuruh berpikir, menolak mencari tahu apa yang salah. Sampai akhirnya bingung itu kembali datang, lagi dan lagi.

Mungkin aku masih takut. Sudah selama ini tapi aku masih juga belum benar-benar terbiasa ditinggalkan. Aku ingin lelah. Aku ingin merasa disalahkan atas apa yang tidak kuperbuat atau yang tidak pernah sengaja aku lakukan. Aku ingin merasakan lelah dianggap tidak berusaha hanya karena apa yang aku lakukan tidak sesuai ekspektasimu. Setidaknya agar aku punya alasan untuk berhenti menghadirkan kamu di dalam kepalaku. Lama-lama aku takut melawan pikiranku sendiri.

Yang paling sulit dari ini adalah membuat kepalaku mengaku bahwa memang tidak akan ada lagi apa yang disebut “Kita.” Terlalu banyak harapan bersama tapi di saat bersamaan aku mengutuk diri karena aku sendiri bahkan tidak tahu alasannya. Terlalu banyak mengharapkan masa depan sampai lupa dengan apa yang terjadi saat ini.

Semoga nanti saat kita bertemu, kita tidak perlu canggung untuk saling menyapa atau bertukar senyum. Toh, kita tidak perlu mencemaskan sesuatu yang tidak ada. Mungkin nanti kita bisa membicarakan hidup masing-masing. Mungkin aku yang lebih banyak bercerita, tentang rumah, pekerjaan, atau sekadar kenapa kipas angin hanya menengok ke kanan dan kiri.

Tentu aku juga akan mendengarkan ceritamu secara seksama. Kenapa kamu makin tinggi, kenapa senyummu makin lebar, kenapa kamu punya pelindung handphone baru dan kenapa kamu masih secantik dulu.

Kita akan ngobrol sambil makan bakso di dekat penginapan murah yang aku sewa. Semoga nanti hujan tidak turun, aku takut bakal ingat saat kita hanya numpang berteduh di situ.

“Kamu masih lelaki manja yang mencoba menjadi pria tapi takut kalah lalu menyalahkan orang lain atas ketakutanmu sendiri.”

Laptop, rokok, handphone kukemas.
“Apapun itu, iya.”

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.