Semua yang sebelumnya kupikirkan langsung buyar ketika dering ponsel menyadarkanku dari bisingnya kepalaku sendiri. Nama temanmu yang tertera di sana, tapi tidak mungkin juga temanmu tiba-tiba menelpon. Kuangkat lalu layarku berubah, berisi wajah lucumu. Aha! Tebakanku benar—lagi.

Ada beberapa tebakan di kepalaku tentang kenapa kamu tiba-tiba menghubungi. Tenang, tentunya perkara kembalimu sudah kukecualikan.

Dari keinginanmu bercerita, kamu cukup pintar menyembunyikannya dengan cara bertanya balik. Pinter.

Dari permintaan aneh-anehmu memintaku memakai kacamata, ceritaku yang tertahan dan statusmu kemarin sore, aku bukan temanmu yang baru sehari-dua-hari bertemu. Sampai sekarang pun aku masih berani menjamin aku lebih tau tentangmu daripada orang tuamu. Coba saja kalau kamu masih belum bisa percaya.

Ceritamu ke sana-sini tentang bagaimana kita harus bertemu, apa yang harus kita bicarakan selagi bertemu, betapa aku harus menahan diri untuk tidak ikut campur urusanmu, bagaimana aku harus melakukan semuanya tanpamu—menurutmu tentu saja.

“Masih ingat tempat kita makan bakso?”

“Iya, kenapa?”

“Tempatnya udah ngga ada, digusur.”

“Lah?”

“‘Gusur balik,’ itu kan yang mau kamu bilang? Aku udah apal kok.”

“Pinter, kamu belum banyak berubah.”

Tempat makan favorit kita digusur, sebenarnya berita itu lebih mengagetkan daripada mendung yang kelewat batas minggu ini. Selain berita bahwa kamu yang menghubungiku duluan kemarin malam.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.