Broken Crayons Still Color

Sudah berapa kali kamu berpikir bahwa kamu adalah orang yang tidak berguna? Tidak berharga, sengsara dan merasa tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup? Meragukan diri sendiri, apalagi sampai kehilangan kepercayaan pada kemampuan yang sudah diasah sekian lama.

Seringkali hal-hal itu terjadi karena penyebab yang sepele — atau setidaknya yang pernah terjadi pada saya. Misalnya, saya mendengar lagu yang gampang diterima telinga saya, tapi saya tidak bisa menemukan chord lagu tersebut tanpa bantuan Google dan setelah ketemu, ternyata sangat mudah. Yang terjadi adalah, “Masa yang beginian aja ga ketemu kuncinya?” Kalimat dari-diri-saya-untuk-saya itu membawa saya dalam lamunan panjang pada tengah malam yang ternyata tidak kalah panjang.

Di satu sisi, mungkin itu hanya efek pengangguran yang tidak punya hal lain untuk dipikirkan. Padahal itu hanya contoh sangat sederhana. Bayangkan kalau tengah malam melamun cuma gara-gara chord gitar. Belum lagi penyebab lebih berat yang mungkin dialami orang lain; perkuliahan, pekerjaan, keluarga. Bahkan mungkin lamunan saya bisa berlanjut tiap malam. Tidak jarang pikiran-pikiran seperti itu memenuhi kepala saya. Kalau manusia bisa disebut produk, mungkin saya akan merasa bahwa saya produk gagal, atau minimal produk rusak yang tidak lolos standar lalu batal diedarkan.

Saya menemukan bacaan yang saya lupa menyimpan sumbernya. Bacaan itu menjelaskan beberapa hal yang di antaranya ada yang saya rasakan. Dari sana saya menyadari kalau adanya pikiran-pikiran tersebut wajar. Wajar dalam artian saya sedang dalam proses untuk mengerti diri saya sendiri. Wajar dalam artian saya sedang memikirkan hal mana yang sebaiknya saya lakukan. Atau kalau dari contoh tadi, “Apa saya harus se-serius itu hanya untuk bermain gitar?” atau “Apa yang sebaiknya saya tekuni jika saya tidak pantas memainkan gitar?”

Satu waktu saya mendengarkan teman saya bermain gitar. Setelah saya mulai obrolan singkat, dia mengaku kalau hanya bisa bermain dengan satu gaya. Dan mengaku tidak bisa memainkan gitar seperti yang saya lakukan. Begitu juga sebaliknya, sampai modar saya tidak akan bisa bermain apa yang ia mainkan. Saya langsung teringat satu kalimat yang saya sendiri lupa — lagi — pernah membacanya di mana.

Broken Crayons Still Color

Mungkin kalimat itu yang bisa menggambarkan — atau setidaknya menenangkan — keadaan saya.

Berapa kali pun saya menghadapi masalah, saya pikir saya tidak pantas untuk hidup — atau setidaknya kalau hidup pun tidak akan melakukan apa-apa. Ternyata semakin saya berpikir kalau saya tidak pantas, semakin menyadarkan saya bahwa mungkin setiap orang merasakan hal yang sama. Perbedaannya adalah pemicu kenapa saya dan orang lain bisa sampai berpikir seperti itu.

Hanya karena kamu merasa tidak pantas, bukan berarti kamu tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Mungkin kamu hanya berada di tempat yang salah. Tempat yang ternyata bukan bidangmu. Seperti krayon yang kita gunakan untuk mewarnai di tempat yang salah sehingga membuat gambar kita terlihat berantakan.

Tapi, krayon yang patah atau hancur sekalipun, tetap mempunyai warna.

This is basically an extended suicide note.