Bandung Dingin

Saat itu bahkan hari belum terlalu gelap, tapi dinginnya sudah lebih menusuk daripada biasanya. Mungkin cuaca yang membuatnya seperti itu, tapi faktor lain ternyata juga bisa memberi pengaruh besar; isi kepala. Entah hanya aku atau kita semua sama; terlalu banyak hal yang berputar di dalam kepala sering kali membuatku panas dingin. Bahkan panasnya siang tidak memberiku keringat sama sekali.

Tiba-tiba aku teringat dua kata yang dulu sering kugunakan untuk menggodanya; Bandung dingin. Dua kata abu-abu yang tidak akan pernah lagi kulontarkan pada siapapun.

Terus terang, aku sangat menyalahkan — mengutuk kalau perlu — kondisi saat ini yang membuatku tidak bisa terlalu lama melihat tawanya yang lucu, senyumnya yang menenangkan, pipinya yang tetap merona saat melihatku datang. Ternyata perubahan yang kupikir akan terjadi tidak separah itu — atau mungkin tidak secepat itu.

Waktu yang singkat membuat kepulanganku dari sana memberikan lebih banyak caci-maki di kepalaku sendiri. Masih banyak pikiran-pikiran yang harus kuteriakkan dan masing-masingnya sangat ingin kumuntahkan dari mulutku. Yang tentu saja tertahan karena aku belum menguasai ilmu menghentikan waktu.

Tapi saat berjalan keluar melewati pintu, pikiranku kosong. Entah karena terlalu banyak yang kupikirkan hingga mereka bosan tertahan di sana, entah karena mereka mati terbakar egoku atau sekadar hilang karena dari awal memang tujuanku bukan untuk membicarakan apapun. Tujuanku datang hanya untuk melihat tawanya — terakhir kali.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak merasa puas karena bisa menebak apa yang akan kami bicarakan, apa yang akan ia lakukan di depanku, selama apa kami bertemu, apa yang harus kubawa, apa yang harus kujadikan alasan agar ibunya tidak curiga dengan kedatanganku. Aku kecewa pada otakku karena sudah membuat tebakan-tebakan itu.

Tapi tetap akan kusimpan baik-baik memori itu; tubuh mungilnya yang lucu, matanya yang kuibaratkan lembaran buku tebal yang tak pernah bisa kubalik dan kusobek sesukaku, bibir tipis yang menari saat ia melontarkan guyonan ringan agar perbincangan tidak terlalu hambar, suaranya yang terlalu merdu untuk sebuah lagu atau senyumnya yang akan menghantuiku di beberapa malam setelah ini. Akan kususun rapi dan kutempatkan ingatan-ingatan itu pada tempat istimewa yang aku pun akan kesulitan untuk menghapusnya.

Sejujurnya sangat sulit menulis tentang ini. Bahkan, aku tidak tahu harus mulai dari mana dan harus berakhir seperti apa. Terlalu banyak yang ingin kutulis; “Kenapa kita tak bisa saling memeluk dalam perbedaan?”, “Kenapa kita tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi dan cukup menikmati saat sekarang ini?” atau pertanyaan-pertanyaan lainnya. Toh, pertanyaan-pertanyaan itu harusnya kutanyakan langsung padanya, bukan malah kutulis di sini. Payah.

Aku merindukan tatapan sayunya saat bersandar di tubuhku atau saat aku menikmati pemandangan wajahnya yang lucu sedang tidur dengan tangannku sebagai gulingnya. Begitu manis, hingga tangisnya hanya akan terjadi saat aku pura-pura menggigit jajan kesukaannya.

Aku hanya akan menitipkan satu pesan jika ia membaca tulisan ini;

“Jangan pernah mau diatur orang lain, tetaplah bebas seperti biasa, sampai kebebasanmu membentuk batasan untukmu sendiri.”

Sayangnya tiga tahun tidak memberiku cukup waktu untuk memulai perbicangan tentang ini.

Sangat sering aku bersyukur bisa mendapat kesempatan menjadi orang yang ada untuk menemaninya dalam tawa dan tangis. Pada akhirnya aku hanya tersenyum mengingat apa yang sudah kami lewati. Mungkin hadirnya memang harus berakhir di sini.

Tapi tak apa, aku dan apa yang kutulis terbuat dari apa pun dirinya kini. Aku akan tetap suka menikmati segala tentangnya.

Terima kasih ciuman perpisahannya. Sampai ketemu lagi, Ngil.

Bandung dingin.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.