”Cara berpisah terbaik itu merelakan,” katanya. Tapi kita sama-sama tahu masalahnya tidak sesederhana itu. Ia bukan hanya sekadar pamit lalu merayakan kepergian. Ia sangat lebih dari itu. Setidaknya sampai suatu hari kamu ditinggalkan lalu sudah dilupakan di hari berikutnya.

Aku belum yakin apakah perpisahan mengajarkan kehilangan. Ia adalah sesuatu paling nyata dalam hidup. “Tidak ada yang abadi,” kata orang-orang. “Berlaku juga dengan pertemuan,” lanjutku. “Kamu akan kehilangan atau dipaksa dihilangkan,” ucapnya setelah diam beberapa saat.

“Bagaimana kamu ingin disayangi?”

“Apapun itu asalkan dari kamu.”

“Ngga, bukan itu maksudku.”

Aku ingin disayangi seperti caramu melihat jajanan di pinggir jalan. Matamu berbinar seakan menemukan harta karun yang sudah lama disembunyikan. Panasnya makanan itu tidak membuat kamu berhenti menggigitnya gemas.

Aku ingin disayangi seperti caramu bermain hujan. Pelan menikmati setiap basah di telapak kakimu. Merasakan angin, betapa menenangkannya petrikor lalu caramu tersenyum saat sadar hujan makin deras.

Aku ingin disayangi seperti caramu berkaraoke setelah lelah bekerja. Lepas, menyenangkan, penuh semangat. Tak peduli suaramu seperti apa, kamu hanya ingin lepas dan berbagi tiap nada yang ada. Menyanyikan apa yang kamu kira suara hati yang disuarakan orang lain dan kamu hanya bisa mengamini lagu mereka.

Aku ingin disayangi seperti caramu menyayangi dirimu sendiri. Dengan kebahagiaan yang hanya bisa kuperhatikan dari sini.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.