Sign in

Saat itu bahkan hari belum terlalu gelap, tapi dinginnya sudah lebih menusuk daripada biasanya. Mungkin cuaca yang membuatnya seperti itu, tapi faktor lain ternyata juga bisa memberi pengaruh besar; isi kepala. Entah hanya aku atau kita semua sama; terlalu banyak hal yang berputar di dalam kepala sering kali membuatku panas dingin. Bahkan panasnya siang tidak memberiku keringat sama sekali.

Tiba-tiba aku teringat dua kata yang dulu sering kugunakan untuk menggodanya; Bandung dingin. Dua kata abu-abu yang tidak akan pernah lagi kulontarkan pada siapapun.

Terus terang, aku sangat menyalahkan — mengutuk kalau perlu — kondisi saat ini yang membuatku tidak bisa…


Semua yang sebelumnya kupikirkan langsung buyar ketika dering ponsel menyadarkanku dari bisingnya kepalaku sendiri. Nama temanmu yang tertera di sana, tapi tidak mungkin juga temanmu tiba-tiba menelpon. Kuangkat lalu layarku berubah, berisi wajah lucumu. Aha! Tebakanku benar—lagi.

Ada beberapa tebakan di kepalaku tentang kenapa kamu tiba-tiba menghubungi. Tenang, tentunya perkara kembalimu sudah kukecualikan.

Dari keinginanmu bercerita, kamu cukup pintar menyembunyikannya dengan cara bertanya balik. Pinter.

Dari permintaan aneh-anehmu memintaku memakai kacamata, ceritaku yang tertahan dan statusmu kemarin sore, aku bukan temanmu yang baru sehari-dua-hari bertemu. Sampai sekarang pun aku masih berani menjamin aku lebih tau tentangmu daripada orang tuamu. …


”Cara berpisah terbaik itu merelakan,” katanya. Tapi kita sama-sama tahu masalahnya tidak sesederhana itu. Ia bukan hanya sekadar pamit lalu merayakan kepergian. Ia sangat lebih dari itu. Setidaknya sampai suatu hari kamu ditinggalkan lalu sudah dilupakan di hari berikutnya.

Aku belum yakin apakah perpisahan mengajarkan kehilangan. Ia adalah sesuatu paling nyata dalam hidup. “Tidak ada yang abadi,” kata orang-orang. “Berlaku juga dengan pertemuan,” lanjutku. “Kamu akan kehilangan atau dipaksa dihilangkan,” ucapnya setelah diam beberapa saat.

“Bagaimana kamu ingin disayangi?”

“Apapun itu asalkan dari kamu.”

“Ngga, bukan itu maksudku.”

Aku ingin disayangi seperti caramu melihat jajanan di pinggir jalan. Matamu berbinar seakan menemukan harta karun…


Pendongeng garang yang dengan mudah membuatku diam di setiap hari menakutkan di mana aku bersamanya. Perempuan pertama yang aku kenal dan mengenalku betul. Peramu resep yang bekerja lebih sering dari pekerja lainnya. Tangannya yang kugenggam lebih erat dan mungkin terlalu lama untuk orang yang—saat itu—baru kukenal.

Ia kadang menangis, terkadang hari memang kelewat sadis. Kadang aku bingung, ia bisa menangis lalu tertawa di detik berikutnya. Aneh. Perempuan kedua—setelah ibuku, tentu saja—yang kujadikan sandaran kepala saat aku menengadah pasrah.

Ia adalah segala alasanku marah dan tertawa setiap hari. …


Lagu asli dari Paul Simon, yang dengan penuh kasih memperhatikan kekasihnya tidur, memperhatikan rambutnya, napasnya, kehangatannya. Saya kemudian menyadari bahwa ia akan menyimpan detail ini dengan baik karena ia akan pergi ketika matahari terbit. Karena dia telah merampok sebuah toko minuman keras dan sedang diburu. Dia mengungkapkan penyesalan atas tindakan bodohnya dan mungkin akan menyerahkan diri di pagi harinya, Tapi sebelum itu, dia hanya ingin menghargai satu malam terakhir dengan kekasihnya.

Seorang pria yang pikirannya terpecah ke tiga arah. Salah satunya adalah menikmati saat singkat kedamaian yang dia miliki sekarang; mencoba mencari tahu mengapa dia melakukan apa yang sudah ia…


No matter how hard I resist, the sun rises again.

We became trapped and isolated inside each other’s mind.

And in that empty mind, the only question remained in the end,

is why.

Why did this happen?

There’s a line that weren’t supposed to cross.

But each of us already crossed that line a long time ago.

And I believed that was why we’re suffering.

I always thought that life just unfair to me. Have I told you this?

But not once I blamed you or tried to rely on you.

So please,

Tell me.

Just this once.

Why did…


Sudah berapa kali kamu berpikir bahwa kamu adalah orang yang tidak berguna? Tidak berharga, sengsara dan merasa tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup? Meragukan diri sendiri, apalagi sampai kehilangan kepercayaan pada kemampuan yang sudah diasah sekian lama.

Seringkali hal-hal itu terjadi karena penyebab yang sepele — atau setidaknya yang pernah terjadi pada saya. Misalnya, saya mendengar lagu yang gampang diterima telinga saya, tapi saya tidak bisa menemukan chord lagu tersebut tanpa bantuan Google dan setelah ketemu, ternyata sangat mudah. Yang terjadi adalah, “Masa yang beginian aja ga ketemu kuncinya?” …


Awalnya tulisan ini ingin kuberi judul sesuai namamu, tapi aku merasa aneh saat menjelaskan hal yang masih samar. Di kepalaku, berbagai skenario berputar bergantian, tak ada dari mereka yang bisa mengantre tertib. Yah, namanya juga perasaan. Seperti sebelumnya, kamu tidak wajib tahu, atau kalaupun sudah terlanjur, kamu bisa melupakannya nanti sebelum tidur.

Aku bingung kehabisan opsi, atau memang sedang tidak ada ide yang melintas tentang apa yang harus kulakukan. Aku merasa akal sehat sudah tidak terlalu berperan penting. Atau mungkin pertanyaan-pertanyaanku memang tidak bisa dijawab secara logis. Aku hanya ingin sekadar bertemu.

Aku sengaja menolak berpikir, menolak disuruh berpikir, menolak…


Selamat pagi, Tuhan.

Apa kabar subuh-Mu yang akhir-akhir ini kelewat dingin? Bagaimana kabar jam-jam pergantian pagi yang biasanya membuatku semangat?

Belakangan aku merasa Kamu sedang gencar-gencarnya memberiku kejutan serta pekikan tertahan yang tidak main-main.

Aku mungkin bukan ciptaan-Mu yang selalu menundukkan kepala patuh. Bahkan aku sering melihat langit hanya untuk membayangkan bisa terbang dan bersumpah serapah di sana.

Aku ingin cerita, tapi aku juga sadar aku jarang berdoa. Maaf, tolong sekali ini saja.

Beberapa hal mulai membuatku takut; petir, gelap, dunia, isi kepala manusia. Aku ingin kembali menjadi anak kecil, di mana hal yang menyenangkan hanya sebatas bermain bola plastik…


“Bisa kutelepon sebentar?”
“Boleh, sekarang?”
“Oke, tunggu.”

Telepon genggamku berteriak, kuangkat hingga berganti dengan suara yang sangat lembut.

“Ada apa?” tanyaku.
“Di luar hujan.”
“Lalu?”
“Menurutmu, apa Mimo akan berteduh?”
“Kucingmu yang sejak kemarin belum pulang? Mungkin ia sedang bermain hujan.”
“Iya. Apa ia tidak kedinginan? Mungkin sebaiknya aku mencarinya lalu menawarinya payung dan selimut.”
“Kamu pernah bermain hujan memakai payung dan selimut?”
“Tidak. Apa serunya?”
“Begitu juga yang ia pikirkan.”
“Hmm, baiklah. Sampai jumpa nanti ya.”

Aku menengok baskom di dekat kasur. Sialan, bocor lagi.

abay

I’m a terrible liar. Or maybe it’s just a lie and I’m just really good at it.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store